Langkahku
akhirnya masa ini tiba jua
detik detik menjelang untuk melangkah lebih jauh
hmm... aku sangat bersemangat untuk melakukan ini
seakan rasaku sudah terbang melayang menuju negri nan jauh disana
aku tak sabar lagi menanti waktu itu tiba
ku ingin menyusuri tepian jalan kota ini untuk yang terakhir kalinya
dalam hening malam dan buaian suara jangkrik
menghirup udara malam kota ini untuk yg terakhir kali
sembari melihat ukiran kembang api yang merona di angkasa lepas
adakah yang menungguku disana?
menunggu derik langkahku tuk tautkan mimpi yang sempat terabai
detik detik menjelang untuk melangkah lebih jauh
hmm... aku sangat bersemangat untuk melakukan ini
seakan rasaku sudah terbang melayang menuju negri nan jauh disana
aku tak sabar lagi menanti waktu itu tiba
ku ingin menyusuri tepian jalan kota ini untuk yang terakhir kalinya
dalam hening malam dan buaian suara jangkrik
menghirup udara malam kota ini untuk yg terakhir kali
sembari melihat ukiran kembang api yang merona di angkasa lepas
adakah yang menungguku disana?
menunggu derik langkahku tuk tautkan mimpi yang sempat terabai
ku akan bebaskan langkahku tuk berlari sejauh mungkin
4 komentar:
Mau kmana tuhh...?? Ati2 ya jalan malem ntar masuk angin... hehhee...
Cinta dan Telaga Itu
Kutemukan garis dan tepian wajahmu,
pada sisi telaga yang luluh oleh malam,
dan pada pucuk bambu diujung telaga itu,
ada desahan nafasmu yang meluruhkan angin dari utara,
menyerakkan kenangan seperti daun-daun kering yang gugur
kusibak detak waktu yang masih juga merajut kata dari bibirmu,
tentang rindu berjuntai di pematang sawah dan bukit ilalang,
yang menelan habis gema suaramu,
kutepis manik-manik matamu yang menghujam batas kerinduanku,
aku kejar kemana bayangmu, yang kusimpan diantara jelaga dan teratai tua,
persis di arah matahari terbenam, tempat gemercik air mengalir dari telaga itu.
Pernahkan engkau merindukanku seperti jarum yang menusuk persendian,
bahkan aku biarkan cinta kita mengoyak setiap hela nafasku,
karena semerbak tubuhmu melayang sekejap dalam rongga hidungku,
dan kutahu,
waktupun tertinggal ditengah telaga,
diantara kesunyian dan cahaya matahari yang kesepian,
dan akhirnya tenggelam kedasar telaga itu.
Biarlah aku lepaskan semua bayang dan impian-impian ini,
karena suara cinta telah kusisipkan ditepi huruf-huruf namamu,
yang akan kukenang,
tanpa henti,
tanpa batas waktu.
Koez : batas riau, agustus’09
hamparanbirutanpabatas.blogspot.com
Catatan : Aku berikan puisi ku ini sebagai salam persahabatan kita.
wah.. kalo puisi2 saja sepertinya g bisa... hehehehe
@koez : makasih byk :)
Posting Komentar