'untukmu sahabat'
tak terkira lagi peluh yang jatuh
tak terbendung lagi airmata yang keluar
tak terbayar lagi pengorbanan yang telah diberikan
hari itu,
semua rasa bercampur menjadi satu
perih remuk redam mengalir deras di seluruh syaraf
memekik menggaung suara batin laksana diri yang tercekik
kala itu,
sebagian berbondong-bondong mencari pada sebagian
isak tangis derai asa meliputi selaksa tawa
menyeret kaki berusaha dan terus berusaha bangkit dan mencari lagi
apa yang masih kau cari? tanya seseorang pada yang lain
sebuah kemaafan
yang hampir punah ditelan masa
yang tanpanya maka tak selamatlah akhirnya jiwa
: maaf tulusku kepada siapapun yang telah tersakiti dan tersalahi oleh kefanaanku
Read more...mengikuti gerak hati menuju keindahan abadi
mengindahkan terpaan badai yang selalu datang menghujami
yang terdengar hanya nyanyian surgawi
yang datang berhembus lirih menyusup sanubari
aku ingat suara itu
suara yang pernah menggetarkan jiwaku
keindahan yang sangat menyejukkan jiwa
membuai setiap naluri yang mendengarnya
keindahan taman impian yang membahana
menyisakan senyuman sang dewi nirmala
fikirku tersesat di tempat yang begitu asing
seakan tak berpenghuni
penuh sekat dan tabir yang menghalang melintang
kemana ku harus bertanya?
mencoba menyingkap semua tabir penghalang
namun... seakan tak satu pun tabir yang berhasil kusingkap
meski aku telah melakukannya hingga tersengal
terduduk lemas aku disudut fikirku
kawan... baru kusadari
aku tersesat di alam fikirmu!
mengapa begitu banyak tabir yang kau buat?
apa kau sengaja agar aku tak dapat mengetahui apa yang kau fikirkan?
agar aku tak mengerti mengapa kau begini?
yaa... aku memang tak mengerti!
karna tabir itu aku tak mengerti
karna sekat itu aku tak mengerti
karna keanehan sikapmu pun aku tak mengerti
aku akan pergi!
keluar dari alam fikirmu
yang menyisakan banyak tanda tanya tanpa jawab perlu
dunia yang asing...
dengan para makhluknya yang begitu asing pula
semoga suatu hari kau kan kembali ke dunia yang ku kenal
ku tulis memo di atas kertas putih kecil ini
sedang senyap angin di telingaku
seakan aku sendiri yang tertinggal di dunia ini
kemana mereka semua???
ku acuhkan semua pikiran itu
ku terus berusaha menulis
samar ku dengar lantunan lagu melayu sendu
entah darimana asalnya
sejenak konsentrasiku buyar
pikiranku terhanyut akan keindahan syairnya
ah... ini hanya tipuan sesaat pikirku lagi
aku tak boleh tertipu keindahan sejenak lagi
hanya merusak asa dan langkahku
aku kembalikan fokusku pada kertas didepanku
seakan dunia tak mau tau apa yang ku kerjakan
dan aku pun begitu, tak peduli lagi dengan peredaran dunia ini
yang ada di pikir ku hanya kemantapan langkahku
penaku kembali menari di atas kertas ini
sejuta kata di benakku yang ingin ku tumpahkan ke dalam kertas ini
namun hanya satu larik kata yang mampu ku tuangkan
yang mungkin mampu mewakilkan segenap rasa di jiwa
"kenangan tertinggal"
tetes peluh membasah kening
raut lelah menghapus indah wajah
merangkai kisah dalam bait gurat seri
onak itu seakan tak ingin beranjak pergi
selalu dan selalu bercokol di hidupnya
kian menuakan jejak derik langkahnya
cerita musim lalu yang ternyata belum usai
semakin merait talian olah pikirnya
dapat ku baca kemelut di jiwanya
oh bunda...
ku ingin kembalikan seri wajahmu
hapus semua lelah pikirmu
pindahkan pedih itu ke dalam sukmaku
gantikannya dengan seukir senyum indah untukmu
derai hujan petang ini memekik gaung sukma naluri
mengundang kembali gerimis hati
terlintas bayang kala itu
saat kita duduk ditepi pantai
memandangi bocah berlari riang kesana kemari
juga nelayan yang sibuk mengemas jala
tak terduga waktu itu akan masa ini
keasingan diri menuai kenisbian kisah janji
dimanakah letak kealpaan diri?
harusnya padamu semua ini ku akhiri
(untuk disadari)
inginku berlari mencari telaga suci
tuk perciki raga ini dengan bau surgawi
agar dapat ku kuatkan langkah tuk kembali tegak berdiri
ah.. ku terseret lagi ke dalam rawa yang berlumpur penat
tak dapat ku hampiri pasak tuk menolong diri
ku terjatuh lagi
namun ku kan bangkit sekuat nafas hakiki
tak peduli jerat perih merajam kaki
ku kan terus berlari menggapai seri
: ku harus bangkit
di sudut ruang ini kutemukan seberkas kisah
secercah tawa membaur menyentuh jiwa
di sudut ruang ini aku melihat sosok yang sangat gembira
tertawa riang membangkitkan semangat orang yang mendengar
selalu tersenyum cerah tanpa pernah bersedih
bermimpi membuat dunia ini lebih indah dengan senyuman
sungguh kebahagiaan yang selalu mengelilinginya
siapakah sosok itu?
di sudut lain ruang ini kutemukan wajah murah berselimut kesedihan
kepedihan jiwa seakan merenggut senyuman dari wajah ini
di sudut ini aku melihat sosok yang selalu berdiam diri
menatap kosong kedepan tanpa terbersit senyum
kegundahan atma menutupi keindahan sebuah senyum simpul
derita telah mengoyak keriangan dan keindahannya
sungguh hanya nestapa yang datang menghampirinya
telah menghilang semua bahagia
aku kembali bertanya
siapakah sebenarnya sosok itu?
ternyata kedua sosok itu adalah seseorang yang sama pada masa yang berbeda
: biarlah aku menyimpan rapat jawabannya (agar menjadi rahasia abadi dalam atma)
Tak terbersit sedikitpun makna dibalik buncahan amarah jiwa
Dunia seakan tertutup rapat tak dapat melihat suatu kebenaran
Manakah kebenaran yang hakiki?
Tak satu pun yang dapat menelaah dan menyelami ke dalam diri
Gegap gempita mewarnai ruang hidup ini
Mengapa tak ada yang berani angkat suara?
Riuh redam tangis menyayat pedih
Namun tetap tak dapat menghapuskan luka torehan di hati
Berjalan gontai menentukan arah langkah ini
Tak tau harus kemana diri ini kubawa
Tak satu pun tempat yang tak memberikan perih
Tak ayal rasanya, ku ingin melangkah ke duniamu wahai para malaikat
Aku inginkan kedamaian diri
Ketenangan hati saat tak ada lagi kerisauan
Bukan sebongkah harta duniawi
Atau sekedar kesenangan akan materi
Adakah yang dapat mengerti ini?
Atau aku harus berlari ke arah kehidupan sejati
Sampai kutemui kedamaian abadi
Lelah...
Menyusuri hari ini yang penuh dengan problematika
Seakan waktu tak ingin beranjak dari peraduannya
Lelah...
Berkecamuk pikiran di dalam benakku
Seakan tak mampu untuk menghandle semua ini
Sendiri...
Kulalui hari-hari penuh luka ini
Tercabik hati tak dapat bersuara
Tak satupun yang dapat mengayomi diri
Dari sejuta kepedihan jiwa
Kemana kan kucari jiwa yang dapat melindungi
Yang dapat mengerti perasaan hancur dan terpukul
Tlah hilang dariku semua tempat mengadu dan bersandar
Kini tinggal kesedirian menyelimuti hidup
Pergi...
Menjauhlah dari hidupku
Bawa semua kata bualanmu
Juga semua tipu daya dan janji palsumu
Ku takkan hiraukanmu lagi
Jangan pernah kau menoleh ke arahku lagi
Aku sungguh tak peduli
Menjauh...
Lanjutkan perjalanan khayalmu
Ku takkan menghentikan langkahmu
Tuk tautkan kembali muslihatmu pada jiwa-jiwa yang baru
Hingga suatu saat kau lelah berpetualang tanpa makna
Hanya menghabiskan usia tiada guna
Menyiakan yang harusnya dihargai
Akhiri...
Semua kenangan tak bernyawa
Perjalanan hidup penuh luka
Binar cahaya jiwa meredup karena duka
Kebencian menyelimuti sukma
Hikayat ingkar mendera kasih
Merenggut murni talian jiwa
Kepedihan membelenggu sukma
Membakar asa yang telah susah payah kuraih
Benakku...
Kosong berselimut kehampaan
Tercabik rangkaian onak
Menembus hasratku tuk bangkit
Teguhku...
Lunglai tanpa kekuatan
Hilangkan inginku tuk berkreasi
Hempaskan kembali aku kedalam kehancuran
Sadarku...
Nyaris tak dapat ku kuasai
Terbang membahana jauh ke ujung samudra
Sulit tuk mengembalikan keagungan diri
Sendiri...
Kurasakan pahit getir ini
Kulinangkan semburat jiwa
Belenggu hitam hanyutkan asa
Dentang lagu mengiringi masa ini
Satu hari yang kan menutup sejuta kisah
Mengakhiri semua kepedihan lirih
Kuingin berlari sejauh mungkin
Mencengkeram tirai menyibak duka
Asa akan penghabisan getir jiwa
* * * * *
Transisi hidup penggambar duka
Akankah ini akhir langkahku
Terjerembab ke dalam kesedihan yg ku tak tau
Mengapa aku begini?
Mengapa kurasakan jiwaku penuh jerami?
Aku tak mampu fahami semua ini
Ku terpaku menatap jauh ke angkasa luas
Di keheningan malam yang kian menyusup
Bertabur bintang cerahkan naluri
Di sudut ruang kosong nun jauh disana
Kudapati suatu pengharapan akan sebuah arti
Makna terasa mencercah setiap titik perih
Dalam hening tersirat berjuta ungkapan
Merenggut seri bunga cinta
Ikrar suci yang terhempas riak keingkaran
Kuingin berlari mengejar seberkah cahaya itu
Tuk membangkitkan kembali seluruh asaku
Terbangkan tirani yang menyekat diri
Menggapai embun hanyutkan lara
Kepedihan menghiris relung jiwaku
Lyric-lyric itu lagi yang kembali kudengar
Seraya petir menyambar urat nadi
Kesakitan menyisir segenap sanubari
Kapan waktu akan berakhir
Menggantikan isak tangis dengan riang tawa bahagia
Apakah kebahagiaan itu masih ada?
Diantara berjuta kemelut jiwa yang menderma
Apakah seri bisa kembali melengkapi erti
Berbalut riak memenuhi gurat wajah
Duniaku berlalu penuh misteri
Begitu banyak cerita tanpa kata
Hingga terbersit seribu tanya
Betapa suci keagungan ilahi
Dan impianku pun menghilang
Dan kasihku pun menghilang
Dan alur ceritaku pun menghilang
Dan sahabatku pun menghilang
Tergantikan dengan kesucian tragedi
Yang menghentakkan setiap nafas nadi
Menjadi suatu kenyataan hakiki
Yang terukir abadi dalam suratan illahi robbi
Wahai sahabat illahi robbi
Wahai kekasih illahi robbi
Tunjukkanlah ketulusan hati suci
Hingga menjadi keterpanaan abadi
Yang kan selalu terlihat walau terhalang tirani
Menembus tirai duniawi dengan mata hati
Jangan pernah ada kemunafikan
Jangan pernah ada kesemuan
Tampakkanlah asa kejujuran
Di atas segala ketertutupan hati
Pada-Mu lah illahi robbi kami kembali
Kututup mata dan telingaku dari semua yang ada di depanku
Kubiarkan mereka bertindak apapun yang mereka suka
Kutetapkan langkahku menuju kedamaian yang sunyi
Kuingat selalu petuah lama yang telah menuntun hidupku
Tak terkira besarnya cobaan yang harus kulalui
Tak terhingga tetes air mata yang telah jatuh membasuh lukaku
Tak terduga godaan hidup yang terus datang silih berganti
Tapi tak akan dapat mengusik diamku dalam rasa yang tersia
Kini ku akan terus melangkahkan kaki
Menuju kehidupan yang kekal abadi
Hingga tiada lagi yang berani menyakiti
Ku akan terus melangkah sendiri hingga akhir nadi
Selamat datang wahai peri alam mimpi
Tunggulah kedatanganku di singgasanamu
Aku akan datang menemuimu di kerajaanmu
Membawa segenap mimpi yang akan terus abadi
Kugantungkan namaku pada larik-larik puisi ini...